Bagaimana Orang Muhammadiyah Bersikap

khusnul Khuluq aktivis imm dan intelektual muda muhammadiyah

Modernis.co, Kediri – Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan tidak lahir di ruang hampa. Akan tetapi, berdirinya Muhammadiyah merupakan respon atas kondisi sosial. Yakni kemiskinan dan minimnya pengetahuan yang melanda umat Islam itu sendiri. Kemiskinan dan minimnya pengetahuan ini yang membuat nilai-nilai kemanusiaan terkikis.

Artinya, ada konteks lahirnya Muhammadiyah. Dengan kata lain, Muhammadiyah lahir dari keprihatinan atas apa yang menimpa rakyat pda saat itu. Kondisi itulah yang hendak dipangkas oleh Muhammadiyah.

Hal ini menunjukkan bahwa, Muhammadiyah yang hadir sebagai gerakan purifikasi, sejujurnya bukanlah purifikasi Agama semata. Akan tetapi Muhammadiyah hendak menunjukkan bagaimana bentuk keberagaman yang bermuara pada pembebasan kaum yang tepinggirkan. Juga  kelompok tertindas.

Karena itu, seseorang yang mengaku Muhammadiyah bukan hanya mengurusi persoalan ibadah formal saja. Akan tetapi juga harus turun langsung untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Kesholehan orang Muhammadiyah tidak berhenti di Masjid saja. Kesalehan orang Muhammadiyah jangan sampai berhenti di tempat shalat saja.

Namun, kesalehan itu harus diterjemahkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah, panti asuhan-panti asuhan Muhammadiyah, klinik-klinik Muhammadiyah, universitas-universitas Muhammadiyah, dan amal usaha Muhammadiyah lainnya.

Kalau kita melihat kembali sejarah, kita akan tahu bahwa turunnya Islam juga dalam rangka mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang tengah terkikis. Hal ini menunjukkan bahwa, diutusnya Muhammad sebagai Nabi tidaklah semata-mata dalam rangka menyampaikan tata cara ritual. Akan tetapi dalam rangka mengikis penyakit-penyakit sosial yang menggiring pada dehumanisasi.

Dengan kata lain, Muhammad sebagai seorang Nabi hendak mengajarkan model keberagamaan yang dapat memelihara nilai-nilai kemanusiaan. Yakni bagaimana Agama dapat menjadi solusi atas krisis kemanusiaan. Maka dari itu, Islam tidak berhenti pada aspek ritual saja.

Menjadi orang Muhammadiyah bukan hanya bagaimana menjalankan ritual yang benar dengan menjauhi takhayul, bid`ah dan khurifat. Akan tetapi, menjadi orang Muhammadiyah pada hakikatnya adalah memulai untuk mengemban tugas besar. Tugas kemanusiaan. Tugas itu adalah bagaimana memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang tengah terkikis dewasa ini.

Salah satu ciri lain dari orang Muhammadiyah adalah bagaimana mengedepankan rasionalitas. Hal ini berdampak pada minimnya pengkultusan atas tokoh Muhamadiyah. Tradisi inilah yang mulai diajarkan oleh Ahmad Dahan. Karena itu, akan dengan mudah menemukan perdebatan yang sengit dalam rapat-rapat kecil Muhamadiyah. Yakni bagaimana keputusan di ambil dengan argumen yang rasional.

Karena itu, Muhamadiyah secara luas adalah bagaimana beragama dengan rasional. Siapa pun yang bergama dengan rasional adalah orang Muhamamdiyah. Menjadi orang Muhamamdiyah adalah belajar untuk beragama dengan rasional. Orang Muhammadiyah adalah orang yang rasional.

Satu lagi pertanyaan yang perlu dijawab. Bagaimana bekerja di amal usaha Muhamadiyah? Pesan Ahmad Dahan yang sangat terkenal adalah hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari  hidup di Muhammadiyah. Kalimat itu memang benar. Amal usaha bukan hanya untuk menghasilkan profit. Tapi adalah lahan untuk berdakwah. Karena itu, berjuang di Muhammadiyah harus diiringi keiklasan.

Namun, apakah bekerja di amal usaha Muhammadiyah haram menerima imbalan? Apakah seorang guru yang mengajar di sekolah Muhammadiyah harus menolak untuk digaji? Para penggerak Muhammadiyah yang berjuang di amal usaha Muhamamdiyah juga perlu penghidupan. Karena itu, para pejuang yang berkecimpung di amal usaha itu juga perlu menerima imbalan. Karena mereka juga butuh penghidupan.

Namun, kembali lagi bahwa, jangan sampai pekerjaan yang dilakukan itu hanya untuk mencari pengidupan semata. Amal usaha adalah sarana untuk berdakwah. Bekerja di Muhammadiyah harus melakukan hal-hal yang lebih bernilai dari gajinya. Jangan terlalu perhitungan dengan Muhammadiyah. Jadi dalam bekerja di amal usaha Muhamamdiyah itu, ada kalanya harus mengiklaskan hal-hal tertentu, dan ada kalanya harus memperhatikan hak-haknya. []

Oleh: M. Khusnul Khuluq (Human Right Defender, Kader Muda Muhammadiyah)

M. Khusnul Khuluq
M. Khusnul Khuluq

Muhammad Khusnul Khuluq, S.Sy., M.H. Alumnus Jurusan Syariah Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2015. Peraih The Asia Foundation Scholarship of Master Program on Syaria and Human Right Studies.

Leave a Comment